PEKERJAAN ACUAN / BEKISTING

PASAL 3

PEKERJAAN ACUAN / BEKISTING

PEKERJAAN ACUAN ATAU BEKISTING
PEKERJAAN ACUAN ATAU BEKISTING

1. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga. kerja, bahan, peralatan, pengangkutan dan pelaksanaan untuk menyelesaikan semua pekerjaan beton sesuai dengan gambar gambar konstruksi, dengan memperhatikan ketentuan tambahan dari arsitek dalam uraian dan syarat syarat pelaksanaannya.

 

2. Persyaratan Bahan

Bahan acuan yang dipergunakan dapat dalam bentuk beton, baja, pasangan bata. yang diplester atau kayu. Pemakaian bambu tidak diperbolehkan. Lain lain jenis bahan yang akan dipergunakan harus. mendapat persetujuan tertulis dan pengguna barang/jasa atau Pengawas terlebih dahulu. Acuan yang terbuat dari kayu harus menggunakan kayu jenis meranti atau setaraf.

 

3. Syarat syarat Pelaksanaan

a. Perencanaan acuan dan konstruksinya harus direncanakan untuk dapat menahan beban beban, tekanan lateral dan tekanan yang diizinkan sepert] tercanturn pada “Recommended Practice For Concrete Formwork” (ACI. 347¬-68) dan peninjauan terhadap beban angin dan lain lain, peraturan harus dikontrol terhadap, peraturan pembangunan pemerintah daerah setempat.
b. Semua ukuran ukuran penampang struktur beton yang tercantum dalam gambar struktur adalah ukuran bersih penampang beton, tidak termasuk plesteran/finishing.
c. Sebelum memulai pekerjaan, pemborong harus memberikan gambar dan perhitungan acuan serta. sample bahan yang akan dipakai, untuk disetujui oleh pengguna barang/jasa atau pengawas. Pada dasarnya tiap tiap bagian bekisting, harus mendapat persetujuan tertulis dari pengguna barang/jasa atau pengawas, sebelum bekisting dibuat pada bagian itu.
d. Acuan harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tidak ada perubahan bentuk dan cukup kuat menampung beban beban sementara maupun tetap, sesuai dengan jalannya pengecoran beton
e. Susunan acuan dengan. penunjang penunjang harus diatur sedemikian rupa.sehingga memungkinkan dilakukannya inspeksi dengan mudah oleh pengguna barang/jasa atau pengawas. Penyusunan acuan harus sedemikian rupa hingga pada waktu pembongkarannya tidak menimbulkan kerusakan pada bagian beton yang bersangkutan.

f. Cetakan beton harus dibersihkan dari segala kotoran kotoran yang melekat seperti potongan potongan kayu, kawat, paku, bekas hasil gergaji, tanah dan sebagainya.
g. Acuan harus dapat menghasilkan bagian konstruksl yang ukuran,kerataan/kelurusan, elevasi dan posisinya sesuai dengan gambar gambar konstruksi.
h. Kayu acuan harus bersih dan dibasahi terlebih dahulu sebelum pengecoran. Harus diadakan tindakan untuk menghindarkan terkumpulnya air pembasahan tersebut pada sisi bawah.
i. Cetakan beton harus dipasang sedem,ikian rupa sehingga tidak akan terjadi kebocoran atau hilangnya air semen selama pengecoran, tetap lurus (tidak berubah bentuk) dan tidak bergoyang.
j. Sebelumnya dengan mendapat persetujuan dari pengguna barang/jasa atau pengawas baut baut dan tie rod yang diperlukan untuk ikatan ikatan dalam beton harus diatur sedemikian, sehingga bila bekisting dibongkar kembali, maka semua besi tulangan harus berada dalam beton.
k. Pada, bagian terendah (dari setiap phase pengecoran) dari bekisting kolom atau dinding harus ada bagian yang mudah dibuka untuk inspeksi dan pembersihan.
l. Pada prinsipnya semua penunjang bekisting harus menggunakan steger besi (scaffolding). Penggunaan dolken atau balok kayu untuk steger dapat dipertimbangkan oleh pengguna barang/jasa atau pengawas selama masih memenuhi syarat. Setelah pekerjaan di atas, selesai, penyedia barang/jasa harus meminta persetujuan dan pengguna barang/jasa atau pengawas dan minimum (3) hari sebelum pengecoran, pemborong harus mengajukan permohonan tertulis untuk izin pengecoran kepada pengguna barang/jasa atau pengawas.

 

4. Pembongkaran

a. Pembongkaran dilakukan sesuai dengan Peraturan Beton Indonesia Tahun 71 dimana bagian konstruksi yang dibongkar cetakannya harus dapat memikul berat sendin dan beban beban pelaksanaan.
b. Cetakan cetakan bagian konstruksi di bawah ini boleh dilepas dalam waktu sebagai benikut :

– Sisi sisi balok dan kolom yang tidak dibebani minimal 7 hari
– Sisi sisi balok dan kolom yang dibebani minimal 21 hari

c. Setiap rencana pekerjaan pembongkaran cetakan harus diajukan terlebihdahulu secara tertulis untuk disetujui oleh pengguna barang/jasa atau pengawas.
d. Permukaan beton harus terlihat baik pada saat acuan dibuka, tidak
bergelombang, berlubang atau retak retak dan tidak menunjukkan gejala keropos / tidak sempurna.
e. Acuan harus dibongkar secara cermat dan hati hati, tidak dengan cara yang dapat menimbulkan kerusakan pada beton dan material matenial lain disekitamya, dan pemindahan acuan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kerusakkan, akibat benturan pada saat pemindahan.
f. Apabila setelah cetakan dibongkar ternyata terdapat bagian bagian beton yang keropos atau cacat lainnya, yang akan mempengaruhi kekuatan konstruksi tersebut, maka penyedia barang/jasa harus segera memberitahukan kepada pengguna barang~asa atau pengawas, untuk meminta persetujuan tertulls mengenai cara perbaikan pengisian atau. pembongkaranya.
Penyedia barang/jasa tidak diperbolehkan menutup/mengisi bagian beton yang keropos tanpa persetujuan tertulis pengguna barang/jasa atau pengawas. Semua resiko yang terjadi sebagai akibat pekerjaan tersebut dan biaya biaya perbaikan, pembongkaran atau pengisian atau penutupan bagian tersebut, menjadi tanggungJawab penyedia barang/jasa.
g. Seluruh bahan bekas acuan yang tidak terpakai harus di bersihkan dari lokasi proyek dan dibuang pada tempat tempat yang ditentukan oleh pengguna barang/jasa atau pengawas sehinga tidak mengganggu lahan kerja.

Tinggalkan Balasan